Klinik Kartu
Klinik Poker
bandarqq
avail-2
 
 

[GHSC] [GHSC] Perjanjian Dengan Iblis [2020]

Amatsukaze Chan

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
25
Reaction score
69
Points
13
Disclaimer :
Cerita ini hanya tulisan fiksi bergenre semi-fantasy dan tidak ada hubunganya dengan perihal SARA di dunia nyata apa pun. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, peristiwa atau kejadian, itu tidak disengaja dan hanya kebetulan belaka.

<3 Amatsukaze Chan <3


PERJANJIAN DENGAN IBLIS








BAB 1
MEET THE DEVIL





“Y-Yakin, Bang, turun sini?”

“Iya!”

“Gak ke rumah sakit aja, Bang?”

“Kagak! Beginian sih besok sembuh sendiri!”

“Oh, ya udah deh, moga-moga beneran sembuh, ye, kagak mampus. Masalahnya, saya males ditanya-tanya polisi nanti kalo ente koit.”

“GAK BAKALAN! Udah, cabut sana!”

Lelaki berwajah ringsek bak becak kelindes itu lalu menyerahkan selembar uang lima puluh ribu dan turun meringis-ringis dari taksi online yang ditumpanginya. Di depannya, kini terlihat sebuah bangunan rumah besar bergaya eropa berpagar tinggi plus berpepohonan rimbun. Tempat kosnya. Kasur, dan sedikit istirahat. Hanya itu yang ia butuhkan sekarang.

“Bangsat… cinta ituh… emang… b-bangsaaat!” Pelan, mulutnya menggeram marah menahan sakit.


Jangan coba sebut dirimu lelaki kalo belum pernah berkelahi demi wanita! Setidaknya, kalimat itulah yang terngiang-ngiang di batok kepala Dito sore ini. Mendung, namun berhawa panas. Seperti gejolak darah mudanya yang kian menggelegak-gelegak menghadapi hidup. Dan ia, bonyok. Meludah darah ke tanah merah dengan bibir yang babak belur. Langkahnya tertatih-tatih seperti kucing pincang. Raganya, jelas terluka. Namun, ada luka yang lebih menganga di dalam sana. Di hatinya.

Aaaarghh,”

Bersusah-payah, ia dorong pagar besar rumah kosnya. Sedikit mengerang kala ada rasa ngilu mendera punggungnya.

Anyway, apalah arti sebuah nama? Namun, izinkanlah alam tuliskan pemuda itu bernama Radityo Angkasawan. Lebih suka dipanggil Dito ketimbang Radit. Usia 20, mahasiswa semester empat di sebuah perguruan tinggi swasta Domino City. Tak ada minat yang spesifik, namun sengaja mengambil jurusan Teknik Lingkungan.

Alasanya? Karena anti-mainstream. Ya, cuma itu saja. Karena Dito adalah anak yang tanpa cita-cita. F*ck cita-cita! Dulu, ia berteriak.

BRUGHH!!

Dito lekas-lekas membanting tubuhnya ke permukaan sofa begitu ia tiba di ruangan dalam lobby bawah. Kamarnya ada di lantai dua, dan ia merasa butuh sedikit pulihkan tenaga dahulu demi mencapai ke sana. Rumah kosan yang besar nan elegan, namun suasananya sepi dan kaku. Bagi Dito yang acuh dan benci pertemanan, tempat ini amatlah sempurna.

“HAHAHAHAHA!”

Dito tertawa liar mengingat kembali perkelahian itu. Duel satu-lawan-satu di lapangan parkir stadion pinggiran kota. BANGSAT! Bisa kalah ya, gue, ama bangkotan tua model gitu? maki benaknya, gak masuk akal, anj*ng! kalah dalam cinta, kalah dalam laga! F*UCK!

Yup
. Lawan duel Dito tadi siang adalah sesosok lelaki penuh kharisma berusia empat puluhan bernama Toni Viswanathan. Seorang pengusaha sukses yang juga masih bujang seperti Dito.

Hah, mahasiswa begajulan lawan pengusaha? Kok, bisa?

Ya! Tentu saja bisa! Apa lagi alasan duel kedua lelaki itu selain masalah perempuan?

Dan, nama perempuan itu adalah Mia. Lumia Kozuki. Seorang eks model remaja seksi blasteran Indo-Jepang yang kini tengah menanjak menapaki dunia profesional.

“AKU! AKU! AKU! AKU YANG SETIA MENEMANI KAMU BERTAHUN-TAHUN DARI SEMENJAK KAMU CUMA ANAK SEKOLAH INGUSAN, MIAAAA! KENAPA SETELAH KAMU TERBANG KE LANGIT, KAMU NINGGALIN AKU DAN TUNANGAN AMA BAJINGAN KAYA ITUUUU!!!”

Hati Dito menjerit. Menjerit sejadi-jadinya. Jelas saja lelaki itu terluka, karena Mia adalah mantan kekasihnya yang sudah ia pacari bertahun-tahun sejak SMP, namun sekarang ia dicampakan begitu saja demi lelaki berstatus lebih.

Raut wajah Dito kembali berubah. Ia balik terkekeh-kekeh menyeramkan. Bibirnya menyeringai pilu. Kelebatan bayangan Mia menghilang di otaknya, berganti adegan-adegan perkelahian barusan yang baru saja ia jalani dengan absurd. Walau hancur dan ringsek, Dito amat puas dengan duel tersebut. Karena selain sebagai pembuktian kejantanan, bisa juga menjadi pesan buat Mia, bahwa ia adalah lelaki yang tak rela cintanya direbut begitu saja. Lihat aku, Mia! pekik hati Dito. Lihat aku mengamuk dan meraung kehilanganmuuu!

“….”

Ah, shit… That flashback...

Toni, si Om Om bertampang tengil itu….



( DITO )

VS



( TONI )

Padahal, Dito sudah mengeluarkan segala teknik dan skill yang ia punya. Namun bagi Toni, sepertinya mudah saja bagi dia untuk mematahkan itu semua.
Sebagai lelaki yang jauh lebih muda, tentu saja Dito mengandalkan kecepatan dan tenaga besar yang ia miliki. Tapi Om Toni selalu mampu gesit menghindar seperti batang pohon lentur yang diterpa angin. Pukulan, tendangan, sapuan kaki, serta sepakan melompat Dito yang penuh semangat, hanya ditanggapi tawa-tawa kecil mengejek dari Om Toni sembari ia melayani sekenanya.

Sialnya, Dito terlalu amat bernapsu untuk menghajar Om Toni yang bertubuh lebih kecil dan bermuka menyebalkan. Maka, ia pun bergerak dan menyerang seperti monyet mabuk. Tahu karakter game Mortal Kombat yang stick-nya dimainkan anak kecil cupu? Ya, begitulah. Riuh menyerang ke sana-kemari, namun tanpa makna dan sasaran. Alhasil, dari sebuah lompatan kung-fu kick Dito yang gagal mengenai sasaran, saat mahasiswa bermasa depan suram itu mendarat dengan tidak mulusnya, Om Toni pun mendapat momen serangan balik yang mematikan! Bak Harimau Bengal yang dingin menerkam mangsanya, sebuah hantaman telapak tangan misterius menerpa perut Dito.

BUGGG!

Uuuohooook!”

Dito serta merta terkejut, merasa kesakitan dengan mata melotot dan mulut termonyong-monyong bak dihantam truk pupuk kandang. Dito merasa sedikit aneh di sini. Ya! Ia yakin ini bukan pukulan ‘biasa’! Si Om Toni brengsek ini pasti ‘ngelmu’! Kalau tidak, bagaimana mungkin hanya sentuhan telapak tangan begini bisa membuat sang Pemuda jatuh terhempas hingga berguling-guling dengan sekujur otot-otot tubuh serasa ‘disetrum’?

Tapi, persetan! Jangankan Om Toni. Bahkan Iblis pun bakal Dito lawan demi buktikan cintanya pada Mia!

Dito lalu bangkit dan kembali menyerang. Namun, semenjak itu keadaan menjadi berbalik. Berkali-kali Dito terkena terpaan telapak tangan maut Om Toni dan berkali-kali itu pula pemuda malang tersebut ambruk tersungkur tak berdaya. Terkapar menggelepar-gelepar dalam debu seperti ikan. DUGGG! Bak tipikal karakter-karakter antagonis anime, Om Toni melangkah angkuh dan menyepak badan Dito yang jatuh terhempas seperti karung beras. Ia mengangkat kerah pemuda tersebut, lalu membantingnya kembali hingga timbulkan suara memilukan seperti patah tulang. BRAKK!!!

Aaaaargh, FUCK! F-Fuck you…,” erang Dito terpaksa menerima kenyataan kekalahannya. Dito berusaha bangkit kembali, namun, tangannya bergetar. Ia tak sanggup lagi untuk menopang dan mengangkat raga terlukanya sendiri, hingga… BRUG! Ia jatuh membatu dan sulit untuk bangun lagi.

“Hahahahaha!”

Merasa sudah menang, sosok Om Toni pun mendekati wajah Dito dan menyeringai bengis.

“Heh, denger ya, Bocah! Mia udah tunangan ama gue. Memek legitnya udah jadi hak milik gue seutuhnya sekarang. Lo sentuh-sentuh dia lagi, nyawa taruhan lo!”

Relung hati Dito terasa panas bak tersiram air keras. Tapi, apa daya? Ia sudah tak bisa apa-apa lagi. Om Toni yang dipikirnya bakal ia kalahkan dengan mudah, ternyata memiliki kekuatan tak terduga.

“….”

Astaghfirullah, DITO? Antum kenapa? Dipukulin ama siapa… lagi?”

Sebuah seruan kaget namun beraura sopan dan alim muncul membuyarkan lamunan Dito yang sedang terkekeh-kekeh gila sendiri di atas sofa. Kelopak mata Dito membuka. Ia mencoba berdiri namun meringis pilu tertahan oleh rasa sakit yang amat sangat. Akhirnya, ia menyerah. Ia biarkan sosok bertubuh tegap tinggi itu mendekati dirinya dan duduk di sofa sebelah.

“Dit? Ada apa? Kok bisa babak belur begini?” Penuh perhatian, lelaki yang juga muda dan tampak seumuran itu bertanya. “Berantem di mana? Ama siapa?”

Aaakh, biasa, Zul.” Dito mengibaskan tangan, “Gak usah kuatir, ntar juga sembuh, seperti biasa.”

“Tapi…,” Pemuda itu menggeleng, “Kamu kayaknya harus ke rumah sakit deh, Dit. Ini parah banget, soalnya, takut ada apa-apa.”

“Jangan, gak usah.”

“Gak papa. Aku pesenkan taksi, ya? Biar kutemenin.”

Dito mengerang, “Zul… argggh, gue gak mau,”

“Harus mau, Dit. Soalnya, kalo kamu kayak gini, nanti susah gerak. Kita-kita juga yang bakal repot nantinya ngurusin kamu, Dit.”

Bangsat, Dito membatin, “Ya udah deh, terserah lo.”

Dito kembali terpejam dan membaringkan bahunya di hamparan sofa. Lelaki ini, yang tampang serta penampakannya seperti pemain sinetron religi ini, namanya Fazrul a.k.a Izul. Izul adalah teman satu kampus Dito yang juga satu kosan di sini. Sebenarnya, Dito dan Izul tidak terlalu dekat dan akrab mengingat dunia, alam, serta kesibukan mereka jauh berbeda. Namun, ada kalanya di momen-momen tertentu mereka ternyata ditakdirkan saling membutuhkan.



( IZUL )

Ya, sudah jelas perbedaan Dito dan Izul ini ibarat germo dan ustadz. Beda dengan Dito yang menyelami dunia seks, kenakalan, dan hura-hura remaja, Izul ini di kampus dikenal sebagai aktifis masjid. Selain itu, ia juga pengurus di organisasi keagamaan mahasiswa. Jadi, amat sulit bagi mereka untuk bisa hang-out bersama.

Tapi ngomong-ngomong, selera cewek si Izul ini seperti apa, ya? Dito mendesah memegang-megang rusuknya, nyeri. Gini-gini juga, pasti pernah coli lah sekali dua kali, mah. Cewek seperti apa yang dia bayangin? Yang kinyis-kinyis seksi seperti Mia kah? Atau yang kerudungan? Atau malah yang binal-binal gak karuan seperti Tasya si Bomseks kampus?

“Zul… eeergh, bantuin gue naik ke atas, dong. Gue agak berat nih naik tangganya…,” desis Dito pelan sembari memaksa berdiri. “Gue kudu ganti baju dulu, nih, kalo mau ke rumah sakit,”

Izul, yang tidak tega melihat penderitaan Dito, langsung merangkul lengan lelaki tersebut. Dipapahnya pelan-pelan tubuh penuh memarnya menaiki tangga. Kebetulan, tangga di rumah kosan luas ini agak panjang dan berkelok, seperti rumah-rumah tua eropa.

“Oke, Zul, thanks. Gue sendiri aja dari sini,” ucap Dito begitu mereka sampai di koridor lantai dua. Pintu kamar Dito kebetulan sudah dekat dan terlihat dari sana.

“Yakin?”

“Iye, yakin.”

“Gak bakal kenapa-napa?”

“Iyeeee,” kesal, Dito agak menyergah, “Lo mending turun bikinin gue sirop seger ato apalah. Haus nih,”

Izul tertawa lalu menepuk-nepuk pundak Dito, “Oke, oke, hati-hati ya di jalan,”

Dito menggaruk jidat begitu Izul berbalik turun dan hilang dari pandangan. Shit, jangan-jangan… si Izul ini malah homo, lagi. Jangan-jangan, dia suka nge-‘hap’ barang cowok! batinnya ngeri.

Sepasang kaki ringkih Dito pun melangkah pelan sembari memikirkan resah betapa ia sering bertelanjang dada di depan Izul, dan Izul samal sekali tak tampak merasa terganggu karenanya. Sampai-sampai, Dito sedikit lengah dan tak awas mengamati genangan air licin bekas mbak Yuni (pembantu kosan) mengepel barusan.

GEDUBRAKK!!!

“ANJEEEEEENNGG!”

Dito berteriak marah. Entah marah pada siapa.



=====================================​



Atas petunjuk serta permintaan bijak Dito, Izul dan Sang Sopir taksi online pun membawa pemuda petarung cinta tersebut ke RSUP Domino City di bilangan utara kota. Bukan apa-apa, selain karena memang ‘langganan’, Dito pun mengenal beberapa suster cantik di tempat itu hasil perkenalan mesum di klab-klab malam. Usai menjalani segala tetek bengek administrasi, pemeriksaan, plus bla bla bla lainnya, Dito pun kini sukses terbaring dengan nyaman di kasur ruang rawat inap 3-F di lantai empat. Ia menarik napas dalam-dalam, dikelilingi seorang dokter anggun, dewasa nan mempesona serta dua sosok suster cantik yang sepertinya… Dito pernah liat-liat mukanya dimanaaa, gitu. Di area foto bugil forum dewasa, kah? Suster juga kan banyak yang diam-diam suka selfie nakal, toh?

“G-Gimana, Bu dokter? Dito… gak apa-apa, kan?” tanya Izul penuh harap seakan-akan Dito ini adalah pacar homo-nya. Dokter anggun tersebut, tersenyum penuh pengertian.

“Gak apa-apa. Hanya ada beberapa luka memar dalam dan tulang yang retak sedikt. Hanya butuh perawatan beberapa hari, kok.” Dokter cantik berusia 35 bernama Fransiska alias Siska itu lalu menatap Izul dalam, “Mas ini… temennya?”



( dr. Siska )


Izul menggaruk-garuk kepala, tersipu malu entah karena apa. “Eh? I-Iya, temennya.”

“Namanya siapa?”

“Fazrul, Bu. Tapi, biasa dipanggil Izul, hehe.”

“Deket sama Dito?”

“Yahh, nggak begitu juga, sih. Tapi… kamar kosan kita sebelahan, kok, hehe.” jawab Izul lagi agak menghindari kontak mata dengan sang Dokter, yang terus menelisik tajam perawakan si Pemuda layaknya kolektor antik.

“Oh…,”

Mengangguk-angguk, dr. Siska lalu mengajak Izul duduk di sebuah meja, berbicara mengenai beberapa hal soal pasien—yang tentu saja—adalah Dito.

Sementara itu, di kasur pasien sana, Dito sama sekali peduli setan dengan kehadiran Izul dan dr. Siska di ruangan. Sekujur sorot mata lahir serta batinnya terenggut habis oleh kemolekan lekuk tubuh dua suster cantik yang mengasisteni sang Dokter. Meski saat itu mereka memakai seragam perawat formal biasa, Dito tahu, bahwa dibalik kain seragam putih tersebut terdapat keindahan nan amat menggoda khas gadis-gadis liar kota. Suster yang satu, berambut shaggy kemerahan dengan berbibir tebal seksi seakan menantang untuk dilumat; Namanya, suster Cindy. Sedangkan yang satu, berambut pendek manis dilengkapi buah dada besar membulat; Namanya, suster Reva. Keduanya, tampak berlagak sok sibuk membuat catatan dan memeriksa kelengkapan peralatan di sana sini.


Warning : Kostum adalah hasil fantasi mesum Dito, bukan seragam sebenarnya


( CINDY )


( REVA )

Oh, yeah, Baby. Suck my dick, will, ya’? batin Dito mesum sembari menganga napsu menatap Cindy dan Reva. Tanpa sadar, di balik selimut sana otot penisnya menggeliat bangkit dan menegang keras. Pasca putus dengan Mia beberapa bulan lalu, Dito memang butuh penyaluran hasrat gejolak darah mudanya yang meletup-letup. Sang Mantan—Mia, jelas sudah tak mau diajak bercampur kelamin lagi. Namun malangnya, Dito masih belum bisa lepas dari bayang-bayang gadis tersebut. Tiap kali Dito bersetubuh dengan cewek-cewek lain (yang kebanyakan perempuan panggilan), selalu terbayang wajah Mia di kepala Dito. Jelas amat mengganggu dan membuat tidak nyaman. Dito merasa kurang puas, dan butuh pelampiasan tak hanya lahir saja. Melainkan, juga batin.

“….”

Ummm, ada yang bisa dibantu?”

Dito tersentak kaget saat Reva mendekati dan tersenyum padanya. Damn, apakah si Suster berambut pendek ini tahu sejak tadi ia ‘ditelanjangi’ mata?

Uh oh eh…,” Dito mendelak-delik panik berusaha mencari jawaban, “nggak, sih, hehehe. Cuma… boleh nanya sesuatu nggak, Mbak?”

Reva, si Imut berdada kencang itu tersenyum. “Iyah, mo nanya apa?”

“Mbak… kenal ama Bruno, nggak? Anak UPG?”

Dito menyebut nama Bruno sahabatnya yang juga bajingan kelamin paling kesohor di kampusnya tercinta. Orang paling kacau sedunia. Bila seorang cewek kenal dengan yang namanya Bruno, maka hampir bisa dipastikan cewek itu bukanlah cewek baik-baik. Ada sekitar 75 sampai 80 persen teman perempuan Bruno ‘bisa dipake’.

Sejenak, Reva mengerutkan dahi sambil menaikan bola mata ke atas. Seperti tengah berpikir keras, sampai akhirnya ia berkata, “Nggak. Kayaknya, aku gak kenal, tuh. Maaf.”

“Oh, okey. Gak papa kok, Mbak. Soalnya pernah liat aku cewek mirip Mbak jalan ama dia,” lengos Dito acuh berlagak sok akrab. Sebetulnya, ia ingin beranjak ke topik pembicaraan lain dengan Reva, namun tiba-tiba bak gledek menyambar Cindy yang sedang menulis-nulis berseru.

“Eh, Bruno yang suka main ke Saturn Club, bukan? Yang mobilnya abu-abu garis kayak ikan hiu?”

Byarrrr! Gairah sang Pemuda pun kembali berkobar. Ada kemungkinan si Cindy Cindy ini bisa diajak nakal!

“I-iya! Mbak… kenal?” sahut Dito antusias.

“Eh, bukan kenal lagi, dia sobat aku, lho,” ujar Cindy sambil terkikik.

Hahahaha! Dito tertawa dalam hati. Tai lah Bruno mau sahabatan ama cewek. Kalo bukan karena bisa dientot, ya minimal boleh digrepe ‘ni cewek!

“Emang kenapa? Dia temen kamu juga?” lanjut Cindy dengan gaya agak genit.

Dito tertawa, “E-e-eh iya, temen kampus. Sobat juga, malah. Tapi kok… kita gak saling kenal, ya? Hahahah,”

“Eh, iya, ya? Masa sih? Kok bisa, ya?”

Cindy lalu bercerita sedikit tentang hubungannya dengan Bruno, sementara Reva, ikut bergabung dalam pembicaraan seru dengan keduanya. Namun, kesemuanya itu hanya berlangsung singkat mengingat dokter Siska sudah selesai di ruangan itu dan membutuhkah bantuan Reva dan Cindy di tempat lain.

Ahhh, bakal digodain dua suster binal terus nih gue, di sini, batin Dito lega terpejam sunggingkan senyum.



=====================================​



AAAAH! Oooouh~ Ssssshh…,”

PLAK! PLAK! PLAK! CPLAK!

“Enak, Sayang?”

“E-enak, Ruu~ p-punya kamu… uuuuuuh, gede banget, gila.”

PLAK! SPLAK! PLAK! SPLAK! SPLAK!

“Suka, kamu ngentot sama aku?”

“S-SUKAA! Aaaaah! Aku mo dapet lagi, RUU! Mo pipiiiisss!”

Srrrrrsrrrsrrrrsrrrsrrrrh

“RUUUU! Oh my Goood. D-Dua kali, gila!”

Sementara itu, di tempat lain di kota Domino City, sesosok lelaki tegap nan tampan tampak penuh semangat sibuk menggagahi teman perempuannya. Ya, dialah Bruno, alias Ruu, penghuni kamar apartemen nista tersebut yang selalu ia jadikan arena ‘pencabulan’ banyak wanita. Hampir tidak ada rasanya gadis yang berkunjung ke tempat lelaki berstatus mahasiswa UPG itu, dan pulang dalam keadaan tidak ternoda. Kali ini, namanya Putri. Sesosok gadis dari luar kota, yang baru saja tiba di kota Domino menumpangi travel.

Anyway, Puput tahu, seharusnya setibanya di kota ini ia langsung mengunjungi tempat sang Kakak. Namun, apa daya? Rasa kangennya terhadap Bruno membuatnya khilaf menyuruh supir taksi berbelok ke arah apartemen Bingo Garden tempat bajingan ini bermukim. Ada rasa gemetar dan geli tak menentu di selangkangan tiap kali Puput melamun dan memikirkan momen-momennya saat ia disetubuhi oleh Bruno. Dan, sialnya, selama di perjalanan travel tadi, Puput dilanda horny! Masih untung gadis berusia 18 itu masih bisa menahan syahwat untuk tidak nekad bermasturbasi. Alhasil, disinilah kini Puput berada. Mendesah-desah nikmat tak karuan telanjang bulat ditindihi lelaki tampan yang selalu menggemaskan untuk dicium itu.

Sementara bagi Bruno, ah… tentu saja ia serasa mendapat rejeki nomplok kedatangan tamu cewek sange yang memeknya gatel minta dipuasi. Bruno bisa merasakan gejolak birahi gadis itu yang membara saat ia diciumi, dicakar, dijambak-jambak, sambil bertautan lidah. Air liur Puput sampai menetes-netes kecil seperti anjing betina nafsu di musim kawin.

Walau kecantikan Puput tidaklah se-‘wah’ para model ato macan di kampusnya, namun di mata Bruno gadis berkulit cokelat eksotis ini amatlah menarik. Senyum dan tingkah lakunya amat ekspresif. Jika ia harus menjerit keras, maka ia akan menjerit keras. Dalam arena percintaan pun begitu. Bruno suka dengan cara Puput berdesah, melenguh, menggeliat, dan ekspresikan segala rasa nikmat yang liang kemaluannya terima. Seriously, muka bukanlah nomor satu! Andai Puput berniat menjadi bintang porno Asia, ia bakal menjadi pornstar yang sukses!



( PUPUT )


( BRUNO )

Anyway, Puput sendiri kini sedang tak memiliki pacar. Sebetulnya, ia cewek baik-baik. Dalam arti, bukan tipikal bitchy yang suka berganti-ganti tusukan batang penis. Selama hidup, lelaki yang pernah menyentuhnya pun hanya si mantan pacar dan Bruno semata. Oleh karena itulah ia menjadi sangat overly attached (ketergantungan) pada bajingan ini. Bahkan Puput, mulai merasakan ada benih-benih menggangu di hati. Ya, Puput mulai suka. Ia mulai ‘pake hati’ pada Bruno.

Kini, pasca ‘muncrat’-nya lubang memek Puput akibat orgasmenya yang kedua, mereka pun tengah sejenak istirahat demi pulihkan stamina. Bruno memeluk erat sayang Puput sembari mencumbu-cumbu kecil di wajah dan leher, membelai-belai halus rambutnya. Sementara Puput, sebenarnya ia sudah agak lelah, tapi akan egois rasanya jika meninggalkan Bruno begitu saja setelah nafsu kebetinaan binalnya dilayani.

Sambil ber-kissing ria plus bersapu-sapu lidah dengan sang Lelaki. Puput beranjak memilin-milin serta mengurut lembut batang kejantanan kekar berurat Bruno yang sempat melayu. Bagian sensitif bawah kepala penisnya ia kocok pelan-pelan, hingga alat keintiman tangguh itu berdiri kembali. Gadis itu pun mulai merasa naik berahi kala Bruno mengusap-usap belahan bibir kewanitaannya secara nakal.

“Tebel…,” bisik Bruno serak sambil tersenyum.

“Heh? Apanya?” Puput mengangkat alis.

“Bulu memek kamu, Sayang,” kekeh Si Lelaki nakal, “Tebel, kayak hutan Amazon,”

Puput pun mengikik geli sembari memukul dada Bruno. Ia memang lebih suka membiarkan rambut kemaluannya tumbuh melebat, mengingat tubuhny agak pendek dan kecil, supaya tidak ‘hilang’ aura kedewasaanya. Mencukur bulu kewanitaan hingga botak dan licin, hanya akan membuat penampakan Puput seperti bocah sekolah.

Dan selanjutnya, Puput bisa merasakan cairan pelumas liang peranakannya melicin kembali. Ia sudah siap untuk dikawini. Begitupun Bruno, yang batang kontolnya balik tegang tak karuan seperti pentungan bisbol.

Puput memberi kode pada Bruno dengan kecupan manjanya, dan Bruno lalu membalikan badan Puput hingga berposisi tidur menyamping. Dari belakang, Bruno mengangkat kaki lentur sebelah kanan sang Gadis hingga area selangkangannya terbuka. Perlahan-lahan, ia menempelkan kepala penis kekarnya ke pintu belahan mulut kewanitaan si Betina, menggesek-gesekannya penuh goda sejenak, sebelum melesakannya masuk penuh tenaga hingga dalam-dalam sampai pintu rahim.

SLEPPH!

Aaaaaaahh! F-Fuck!” erang Puput penuh kepuasan kala relung dinding keintimannya kembali disesaki tombak kejantanan panjang nikmat Bruno yang ia dambakan. Gadis itu mengejang. Meremas-remas seprai. Dan, pasrah membiarkan tubuhnya terguncang-guncang kala Bruno mulai menodainya!

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK! PLAK! PLAK! PLAK!

Ouuuuh, g-geli banget, Brunooo! Aaargh, posisi kaya gini bikin aku cepet keluaaar~”

PLOK! PLAK! SPLAK! SPLAK! CPLAK! SPLAK!

“Brunoo! Ooouh! Memek aku udah kedutan! A-aku… t-t-tahan~ aaaaaahh~”

Bruno tak mempedulikan rengekan-rengekan jalang Puput. Sambil terpejam resapi nikmatnya cengkraman otot-otot kemaluan Puput yang menjepit, Bruno terus mengayuhkan pinggulnya menggagahi si Cantik berkulit eksotis ini sepenuh jiwa. Pertancapan kelamin dengan Puput selalu memiliku ‘aura’ beda. Entah apa, Bruno sulit menjelaskan. Namun yang pasti, lelaki itu selalu merasa ada impuls tersendiri yang membuatnya kian bergairah.

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK! SPLAK! PLOK!

Marry mePuput

“….”

Eh? Shit! Mikirin apa, gue?

Bruno merasakan ada bisikan setan meniupi telinganya. Dengan penuh konsentrasi, ia pun kembali menghujami memek Puput dengan serangan tusuk penisnya.

CPLAK! SPLOK! PLAK! PLOK! PLAK! PLOK!

Puput jelas sudah mengejat-ngejat tak karuan disertai bola matanya yang tenggelam ke atas menikmati sodokan penis Bruno. Ia sudah tak sanggup lagi bicara. Sedangkan Bruno, untunglah, ia mulai didera percikan cambuk-cambuk nikmat pra ejakulasi yang membuatnya kian menggila! Bruno pun memompa panggulnya mengawini Puput kian semangat hingga suara becek pelumas kelamin sang Gadis nyaring terdengar.

SPLAK! CPLAK! SPLAK! CPLAK! SPLAK! CPLAK!

OH, YEAH, BABY! AAAAAH! Enak banget memek lo, Puut!” raung Bruno kala ujung penisnya mulai membendung desakan yang hendak meledak. Selama ini, Puput memang mengizinkan lelaki itu untuk menyemprotkan benihnya di dalam. Maka, kali ini pun ia…

AAAARGH! Uuuuuuh! Oooooh yeaaaah, Cantikhhh… aaaakh~”

Bruno sukses ‘membuahi’ rahim Puput dengan tembakan-tembakan kental limpahan pejuh-nya. Cukup lama dan banyak. Gadis cantik itu seketika terkulai lemas begitu Bruno ‘selesai’ menjantani. Sepertinya, ia sudah mendapati orgasmenya yang ketiga, namun tak kentara oleh Bruno karena mungkin hanya berupa kejangan-kejangan nikmat. Dan, tentu saja Bruno paham kalau Puput sudah meminum obat anti hamil, maka, ia tak perlu khawatir.

Bruno langsung menarik badan Puput dan mendekapnya erat begitu mereka selesai bercinta. Sejenak, mereka beristirahat dalam diam dan deru nafas. Namun, gerakan tubuh mereka tampak intens. Jari-jemari mereka saling meremas dan bertaut. Begitupun gesekan-gesekan lembut sepasang kaki yang mesra menggelitik bak sepasang kekasih. Jelas, Puput sayang sama Bruno. Tapi, Bruno?

“….”

“….”

Bipbipbiptulalitbipbiiiip

Di sela cuddling manja dalam pelukan Bruno, Puput mendengar ringtone konyol ponselnya berbunyi. Bruno memberi tanda agar Puput mengangkat panggilan tersebut. Dengan malas, gadis yang hari ini serasa ratu bulan madu itu pun menggeliat meraih benda tersebut.

“Ya? Halo? Ada apa, Kak?” Serak, Puput menyapa. Panggilan telepon itu ternyata dari kakaknya.

“….”

“HAH? APA? Oke, oke, aku ke sana sekarang. Eh? Aku? U-Udah nyampe di Domino City, lah, Kak. S-s-sekarang lagi baru a-abis cari makan dulu di pusat. T-tunggu, ya, Kak? Mau… ummmh… dibawain makanan nggak, Kak?”

“….”

“Iya, iya, oke.”

-clik-

Bruno yang kaget melihat Puput kaget, langsung bertanya, “Ada apa, Put?”

“Aduuuh, ituu, Kak Dito masuk rumah sakit lagi. Berantem gitu, deh, katanya. Dasar cowok bloon.”

Tawa renyah Bruno berhembus, “Taruhan, pasti soal Mia lagi, deh.”

“Entahlah,” bisik Puput gelisah seraya bangkit dari kasur dan berjalan menuju toilet. Bruno bisa melihat dengan jelas noda kerak sperma miliknya terpatri cantik di bagian dalam paha gadis manis tersebut. Begitu banyak sepertinya ia membenihi lubang memek adik perempuan sahabatnya itu, sampai-sampai becek berlelehan keluar.

“Kita nengoknya jangan barengan ya, Put, nanti Dito curiga, hehe. Bisa ngamuk dia kalo tau aku suka ngentotin kamu,”

“Ya iya laaah,” Jenaka, Puput memutar bola matanya.



=====================================​



RSUP DOMINO CITY, tiga hari kemudian…


AAARGH! Bangsat!”

Dito tersentak bangun dari tidurnya dengan teriakan menggema dan mata membeliak.

Mimpi buruk.

Benar-benar… mimpi buruk.

Ia baru saja melihat dalam bunga bangkai tidurnya itu sesosok makhluk jejadian, seorang manusia, dengan badan kurus ceking berbulu milik Om Toni tapi kepalanya… kepalanya… kepala Mia! Dan, makhluk itu tertawa. Tertawa cabul! Tawa yang amat Dito kenal, karena suaranya mirip tawa Bruno acap kali ia membanggakan diri kala berhasil meniduri cewek cantik kampus.

What the f*ck? Dito menggeleng-gelengkan kepalanya, dosa apa gue ya Tuhan, sampe harus dikasih ‘vision’ mengerikan seperti tadi?

Sejenak, Dito terdiam. Ia menarik napas. Dan… tercenung.

Benarkah ia sudah bangun? Benarkah ini sudah alam nyata, bukan mimpi lagi? Kalau iya… kenapa ada yang terasa janggal di sini?

Bola mata Dito mendelik nyalang mengamati ruangan tempatnya berbaring malam itu. Yup, ini masih ruang rawat inap 3-F tempatnya berada. Suasana serta interiornya pun tak ada yang berubah semenjak ia datang tiga hari lalu. Bahkan, keranjang kecil buah-buahan yang dibawakan Puput saat ia menengok kemarin pun masih ada di meja. Lalu… mengapa terasa ada hawa yang beda?

“….”

Sedetik, dua detik, Dito mencoba berkonsentrasi. Ia memicing mata. Dan… ditemukanlah sedikit ‘jawaban’.

Jam dinding.

Jam dinding yang tergantung di dekat televisi, berputar agak aneh. Gerakan jarum detiknya, berputar mundur. Counter clockwise, kalau kata program-program editing gambar berkata. Rusak? Ya… mungkin rusak. Tapi… rusak yang sempurna, kalau begitu. Karena, menurut Dito, jam dinding tersebut malah terlihat sehat namun… tampak gila tapi teratur.

Gila yang teratur. Kegilaan yang teratur.

Ya, seperti jarum jam yang berdetak mundur. Atau, zigzag terpola. Mungkin, seperti itulah kita harus memahami jalan pikiran orang-orang ‘mental’.

“….”

Anyway, Dito sudah tiga hari dirawat di tempat ini, namun gerakan tubuhnya masih terasa kaku dan kurang bebas. Berlahan, ia pun menapakan kaki ke lantai, berusaha turun dan melangkah normal. Agak sulit, harus sedikit keras dipaksa.

Whuuuuushhh

Dito merasakan hembusan kabut putih menyelimuti ruangan secara tiba-tiba! Ia tersentak, namun anehnya, kabut tersebut hanya memenuhi area lantai bagian bawah saja! Hanya setinggi lutut. Namun terlihat pekat hingga sewaktu Dito melangkah, kakinya samar kelihatan lagi.

Dito pun tertatih menuju pintu ruangan dan membuka pelan-pelan.

Gelap.

Pekat.

Hitam dan sunyi bagai kuburan suasana rumah sakit tersebut membuat tengkuk bergidik.

Anjrit, Dito memaki, kenapa ini? Mati lampu, kah? Apa… sebetulnya gue ada di alam lain? Alam kematian? Gue… mampus?

Rasa penasaran rupanya bergolak lebih besar ketimbang takut di benak Dito. Ketemu hantu? Makhluk menyeramkan? Ah… toh, Dito sudah merasa nyawanya ‘mati’ saat ia dicampakan oleh Mia. Mau hantu jenis apa pun, tak ada yang lebih menakutkan dari gerakan bibir Mia ketika ia berucap, “Sayonara,”

Samar-samar, Dito mencoba beringsut dalam gelap menuju pintu lift utama yang akan membawanya ke lantai dasar. Dito ingin mencoba keluar dari gedung ini. Siapa tahu, keadaannya lebih jelas dan terang.

Ngomong-ngomong, kemana orang-orang? kenapa cuma ada gue sendirian di sini? Umm, makkhluk astral, gitu, atau apa lah? pikir Dito heran sebelum bel pintu lift berbunyi dan membuka lebar bak ikan paus melahap mangsa. Pemuda tersebut tanpa ragu melangkah masuk, dan merasa kaget saat lift terasa bergerak ke atas, namun ketika berhenti, dirinya malah sampai ke lantai dasar yang dituju!

Dito menggaruk-garuk kepala, melangkah keluar. Eh, muke gile? Perasaan tadi naik, kok jug-ujug sampai ke bawah? Batinnya heran. Dan, hanya butuh satu detik bagi dia untuk serta merta kembali takjub oleh suasana area lobi bawah yang… sunyi layaknya kuil suku Inca berusia ratusan tahun!

Gelap… sepi… lowong… dingin…. Benar-benar gambaran Nuclear Apocalypse yang sempurna di mana semua manusia menghilang dari kulit bumi berganti bangunan-bangunan mati yang kokoh!

Anjrit! Keren! Ajib bangsat, beud!

Seketika, tanpa alasan yang jelas, Dito tiba-tiba berputar seperti anak kecil mengagumi tempat kini ia berada, kayak di game-game zombie ato perang modern, Cuy! Mantep kalo main eksplor-eksploran di sini! lanjutnya.

Entah karena gila, stress, atau apa, Dito ujug-ujug merasa menyesal tak membawa kamera untuk merekam suasana dimensi aneh tersebut. Pikirnya, pasti bakal nge-hits brutal abis kalo di-upload ke youtube! Belum pernah ada, kan, youtuber yang menjelajah ke alam dimensi paralel dan membuat liputan petualangan?

Puas bermain-main di dalam, akhirnya Dito pun beranjak ke tujuan semula di mana ia merasa harus keluar gedung dan berlari ke pintu depan. Di luar sana, ia terpana. Menengadah menatap ke atas dimana terhampar langit hitam namun tampak gumpalan awan-awan berwarna merah menyelimuti kala percikan kilat-kilat menyala terangi cakrawala.

“….”

Sekitar satu menit Dito terdiam tanpa kata-kata, hingga ia menurunkan leher dan terhenyak melihat sesuatu.

Ya, sesuatu! Atau tepatnya, seseorang!

Damn! Ada orang lain di sini!

Dito pun berjalan mendekat. Sosok itu, terlihat berdiri di area pelataran parkir di bawah pohon palem hias besar. Semakin Dito mendekat… semakin berbentuk jelas-lah sosok itu pula. Dari bentuknya tampak… seperti seorang perempuan. Perempuan bertubuh pendek agak loli yang memakai dress terusan berwarna hitam dengan aksen garis putih. Gadis itu berdiri tegak. Mengangkat payung. Sambil sepertinya juga… menatap Dito. Dito terus mendekat dan mendekat… sampai ia menyadari ada hal yang sangat aneh dari gadis loli tersebut. Sampai Dito berdiri berhadapan sekitar satu meter di depannya, lelaki itu menyadari satu hal yang amat penting!

“….”

Eueueu… permisi?” Dito melontarkan sapaan pada si Gadis aneh yang cuma berdiri tanpa inisiatif bak NPC NPC tak berguna di game online. “Maaf, kamu ini manusia, kan? Cewek? Tapi kok… kenapa kepalanya… kepala kambing?” tanya lelaki tersebut dengan polos. Well, memang kenyataannya begitu. Gadis ini, memiliki tubuh imut dan menggemaskan, tapi kepalanya, kepala kambing.

Dito benar-benar sudah pasrah dan siap kebingungan kalau-kalau gadis itu hanya menjawab, “Mbeeeek!” namun ternyata ia bisa bicara. Bahasa manusia.

“Selamat datang Tuan Dito. Perkenalkan, saya Chiska, utusan dari pangeran iblis yang disuruh menemui anda. Tak keberatan kita bicara singkat barang beberapa menit?”



( CHISKA )


Dito melongo. Termonyong bego seperti supir angkot salah jalur. Utusan pangeran Iblis? Apa-apaan ini? Apa maksudnya?

Ngomong-ngomong, Dito juga merasa sedikit aneh dengan suara gadis loli tersebut. Ya, suaranya imut dan lembut seperti cewek-cewek di film anime, tapi… getarannya terdengar seperti suara robot. Seperti suara orang iseng yang berbicara di depan kipas angin.

“….”

Belum sempat Dito menjawab, gadis itu sudah berbicara kembali.

“Pangeran Iblis tertarik dengan energi kemarahan, ketidak acuhan, serta ketidaksemangatan anda dalam menjalani hidup, Tuan Dito. Maka, beliau ingin menawarkan sebuah perjanjian dengan anda.”

Ingin rasanya Dito tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Keras. Liar.

HAHAHAHA! Apa lagi ini? Perjanjian dengan Iblis? Gila, masih ada ya di jaman sekarang, setan yang nekad nipu manusia dengan cara terbuka dan blak-blakan seperti ini? Ada apa dengan skill godaan secara halus dan sembunyi kalian, wahai penghuni kerak neraka? batin Dito sembari mengejek.

Alih-alih tergelak, Dito memilih untuk mengangkat tangan. Ia meminta waktu sebentar, namun si Loli kepala kambing tersebut tampak tak peduli. Benar-benar seperti NPC bodoh game online yang hanya bisa bicara tapi tak bisa diajak berkomunikasi.

“Perjanjian yang ditawarkan oleh beliau adalah, beliau siap memenuhi tiga permintaan Tuan Dito. Permintaan apa saja, sepanjang kekuatan yang beliau miliki untuk melakukannya. Tapi, tentu saja dengan harga tertentu.”

“….”

“Perlu diketahui, kekuatan pangeran Iblis tentu saja sangat besar, Tuan Dito. Anda tak perlu khawatir. Dan juga, bila beliau tak sanggup atau tak mampu memenuhi ketiga keinginan Tuan, maka perjanjian otomatis batal. Namun, jika satu atau dua terpenuhi, perjanjian tetap jalan.”

Dito termenung. Ia berusaha menahan senyum sambil mengusap-usap dagu berlagak memikirkannya. Ini… agak aneh dan ganjil, sih, menurutnya. Tapi, menarik juga? Lagipula, ah… apa ruginya sih mencoba segala keabsurdan ini. Bagi Dito yang memang merasa hidupnya adalah sampah, sungguh, betul-betul tak keberatan pemuda tersebut bila bayarannya adalah nyawa. Dito akan tetap terbahak-bahak penuh kemenangan sambil mengacungkan jari tengah.

“Oke. Oke. Sekarang… lo to the point aja deh, Mbing! Bayarannya apa? Apa yang si pangeran Iblis nan sok itu minta dari gue?”

Gadis loli itu sejenak berdehem, lalu berujar. “Nama saya Chiska, Tuan Dito. Tolonglah, jangan panggil saya Mbing atau Kambing. Puh-leasee?

Dito terperanjat, membelalak kaget. Lho, kok gaya ngomongnya jadi kaya anak orang kaya sok gaul Ngamrik? “Halaaah, yodah, terserah lo deh, Chis. Apa yang si pangeran itu mau?” lanjut Dito setengah menantang.

Chiska mengangkat tangan lalu menjentikan jemari lentik berkuteks hitamnya. Whussh, layaknya sulap, munculah gulungan kertas kuno melayang-layang di depan Dito. Dito meraih kertas tersebut lalu membukanya buru-buru. Sejenak, alis tebalnya berkerut. Ia memicing, membaca perlahan, seraya lambat laun mimik wajahnya tunjukan kemarahan.

Ya, Dito marah bukan karena isi perjanjian tersebut, melainkan translate bahasa yang ia tak mengerti yang membuatnya bingung!

“Geblek!” sergah Dito, “Ada yang bahasa Indonesia, kagak? Gue kagak ngarti bahasa latin! Gue jadiin sate maranggi juga lo!”

Giliran Chiska yang kini terperangah. Dengan gaya dramatis dan sok centil, gadis berkepala kambing itu tetiba berseru “Kyaaaa!” sembari menempelkan kedua tangan di pipi.

“Ah. Ma-Maaf, Tuan Dito. Saya salah nge-summon dokumen. I-itu adalah draft cerita yaoi buatan saya yang siap diposting di forum neraka, kyaaah!”

Andai saja tak berkepala kambing, ingin rasanya Dito menerkam dan memperkosa iblis tengil ini sekarang juga. Toh, dunia alam dimensi ini sepi tak ada orang, hanya terlihat mereka berdua di sini. Namun tentu saja Dito masih waras. Meski badannya lucu dan imut, apa enaknya coba ngentot ama cewek yang kepalanya kambing?

Blufff!

Asap kecil mengepul. Chiska kembali menjentikan jarinya yang lentik hadirkan gulungan kertas dokumen yang baru. Dito lagi-lagi membuka kertas tersebut dan membaca. Dan tersenyum. Dan mengangguk-angguk penuh meremehkan.

“Udah? Cuma gini? Cuma ini doang?”

Well, apa lagi yang bisa diambil dari cowok berkehidupan menyedihkan seperti anda, Tuan Dito.” balas Chiska tak kalah mengejek.

“BERISIK!” Dito melotot. “Oke, hahaha, saya setuju. Saya setuju dengan pembayaran yang pangeran Iblis terhormatmu inginkan. Dan Sekarang… sekarang… kita mesti ngapain?”

Chiska mengangguk sopan lalu mengangkat tangannya.

“Tentu saja saya akan mengembalikan anda ke dimensi dunia anda, Tuan Dito. Silakan bawa kertas dokumen tersebut untuk anda simpan. Dan selanjutnya, saya akan menemani anda secara tak kasat mata di dunia anda,” tuturnya. “Saya… akan… selalu bersama anda. Membantu serta mengamati selama perjanjian berlangsung. See ya!”

Buffff!

Eh? Kemana lo, Kambing? Kok ngilang?
batin Dito panik seraya celingukan begitu Chiska ditelan asap begitu saja. Namun, kebingungan itu tak berlangsung lama karena selanjutnya, ada segumpal asap hitam yang menyelimuti tubuh Dito. Dito, berteriak keras karena tiba-tiba ada semacam ‘pasir hisap’ waktu yang menelan tubuhnya hidup-hidup.

Hwaaaaaaaaaaaaa!”



=====================================​



Saat itu matahari bersinar amat cerah. Indah berkilau menembusi jendela rumah sakit ruangan 3-F tempat Dito dirawat. Sang Pemuda mengerjap-ngerjap, tergugah enggan dari tidurnya yang sepertinya amat telat karena waktu sarapan sudah lewat. Gila, mimpi yang aneh, batin hatinya tak percaya.

Namun…

Sekelebat saja Dito merasa kalau pengalaman ganjilnya di dimensi lain adalah bukan mimpi. Karena di balik selimutnya, ia temukan gulungan kuno kertas dokumen berisi perjanjiannya dengan sang Pangeran Iblis yang Chiska berikan.

Degup jantung Dito seketika berguncang.

Tiga permintaan… satu pembayaran.


To be continued....









=====================================​
 
Last edited:

Amatsukaze Chan

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
25
Reaction score
69
Points
13
Absen dulu ... :beer:
Asikkkk ada fiksi baru.....
Tengeri dhisek....:beer:
selamat atas rilisnya

ijin baca dulu
Selamat atas karyanya @Amatsukaze Chan atas rilis ceritanya dalam Gelaran GHSC 2020.



:beer:
Tandain dulu
Nice story suhu.. makasih sudah rilis..
:beer:

Thanks all yang udah mampir + komen :ai:
updatean ane usahain secepatnya, huhuhu :dizzy:
 

Amatsukaze Chan

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
25
Reaction score
69
Points
13

Amatsukaze Chan

Bayi GoCrot
Thread Starter
Joined
Nov 11, 2019
Messages
25
Reaction score
69
Points
13
Top