Klinik Kartu
Klinik Poker
bandarqq
avail-2
 
 

Kenapa Aku Terlalu "Polos"

Celenk_Sumatra

CELENK EDAN #TEAM 7
Joined
Sep 30, 2019
Messages
1,269
Reaction score
7,059
Points
113
TEMAN BARU

2011



Hari demi hari minggu demi minggu bulan demi bulan sudah kulewati, kurang lebih hampir setahun aku di kota B. Masalah yang tadi ku hindari sedikit hilang, menjauh dari Iren pun sudah kulakukan namun sulit bagiku terus menghindar apalagi sampai saat ini Iren tetap mendekati ku bahkan dengan segala perhatiannya yang slalu menjadi bahan olokan di kelas. Dan Untungnya tidak terdengar sampai Kak Nova. Gawat jika terdengar bisa bisa masalah yang di hindari akan datang lagi.

Bukan hanya Iren yang memberikan perhatian tetapi Mba Vina Dan Mba Alin pun sama. Aku merasa semakin dekat dengan keduanya. Keduanya pun sudah menjadi sahabat, sering aku di ajak jalan mengenal kota ini. Hanya saja aku merasakan perhatian Mba Alin yang berbeda bisa di bilang sangat sangat perhatian, dari aku bangun tidur hingga tidur lagi selalu melihat wajahnya itu. Dari tatapannya melihat ku sampai perlakuan nya terhadap ku benar-benar bisa membuat ku salah tingkah sendiri. Entah perasaan ku juga menjadi deg deg an jika melihat tatapan syahdu nya itu.

Oh ya Kak Mira... Dia juga selalu memperhatikanku tetapi dari jarak jauh, aku tahu itu karna aku merasakan setiap keluar kelas kak Mira sudah diluar kelasnya dan melihat arah kelas ku. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Setelah bercerita mengenai perempuan yang menarik perhatian ku, aku juga sudah mempunyai sahabat yang sangat kocak siapa lagi jika bukan Reza dan Cibe, kami selalu bersama walaupun aku berbeda status dengan mereka, tetapi mereka tidak memandang status untuk berteman hampir sama dengan cewek cewek yang ku kenal.

Tidak hanya kocak mereka juga pintar dalam pelajaran, apalagi dengan Cibe walau dia sedikit lemot tetapi dia sangat pandai dalam pemograman membuat aplikasi. Pernah waktu itu dia iseng membuat aplikasi untuk menjebak Reza hanya untuk melihat isi galeri handphonenya, hanya karena penasaran ternyata isinya hanya foto-foto game saja. Namun di galerinya itu menyimpan 1 foto cewek yaitu Winda. Dan betapa bodohnya Cibe, dia menanyakan langsung mengapa ada foto Winda di handphonenya sampai membuat Reza terkejut dan mengetahui bahwa handphone nya di sadap oleh Cibe.

Untungnya Reza tidak marah hanya saja menjadi waspada terhadap Cibe, dan mengapa dia menyimpan foto Winda hanya karena iseng dia menemukan di sebuah platform sosmed. Namun itu menjadi sebuah candaan untuk Cibe. Aku hanya tertawa saja melihat tingkah mereka berantem sambil bercanda berdua, beruntung aku memiliki sahabat yang sangat baik seperti ini. Namun aku melihat gelagat aneh di Reza setelah aku dan Cibe mengetahui dia menyimpan sebuah foto Winda.

Saat ini aku sedang berdiri di mading bersama kedua sahabat ku untuk melihat nilai ulangan kenaikan kelas tertinggi. Aku langsung melihat ke nama paling atas yaitu aku sendiri dan yang kedua adalah Winda serta yang ketiga Reza, aku tidak melihat nama Renan di sana. Aku terkejut ternyata nilai tertinggi di dapatkan oleh kelasku, Winda juga yang kebanyakan diam ternyata pintar juga aku tidak menyangka dia sangat pintar. Cibe yang masih mencari namanya ternyata urutan ke 25 serta Iren di bawahnya urutan ke 26. Setelah dari mading melihat nilai sekarang aku pulang menuju kos kostan bersama Mba Vina, Mba Vina mengucapkan selamat kepadaku tentunya karna tahu, nilai ulangan ku yang tertinggi di kelas 1.

Oh ya aku sekarang mengikuti kegiatan OSIS di sekolah, aku di pilih sebagai perwakilan cowok dari kelas untuk perwakilan cewek nya ialah Iren. Aku sempat menolaknya tetapi sekelas semua setuju. Di OSIS ada Ketua nya Kak Nova dan wakilnya Kak Mira. Awalnya sikap Kak Nova tidak suka adanya aku tetapi makin hari sudah terbiasa.

Tidak ada banyak obrolan di perjalanan hanya ucapan selamat yang di berikan oleh Mba Vina. Sesampainya di kost an Mba Alin sudah menunggu di ruang tengah seperti biasanya jika aku pergi sekolah atau kemana dia sudah menungguku di ruang tengah. Tak lupa Mba Alin juga mengucapkan selamat kepadaku. Setelah ini sekolah di liburkan kurang lebih 2 Minggu. Sebagian anak kost pulang ke rumah orang tuanya untuk berlibur sedangkan aku hanya di kost kostan,

Tak ada yang menarik untukku ceritakan selama liburan, aku hanya belajar pelajaran kelas 2 dan sesekali diajak jalan oleh Mba Alin. Untuk Mba Vina, dia pulang ke rumah orang tuanya namun hanya seminggu sisanya menemaniku di kost an ber 3 dengan Mba Alin [eitssss... Jangan pikir aneh-aneh ya, Aku gak berbuat macam macam hanya belajar bareng aja.]

2 hari sebelum masuk sekolah, aku sibuk ke sekolah untuk menyiapkan kegiatan OSIS saat siswa baru masuk, dan sudah pasti aku bertemu dengan Iren. Iren semakin dekat dengan ku padahal aku sudah menghindari nya, sempat Iren jatuh tetapi aku dengan cepat menangkap nya dan Kak Nova melihatnya. Sepertinya ini akan menjadi masalah, pikirku.

Cepat saja aku meninggalkan Iren setelah menolongnya. Aku tidak ingin lama lama takut menjadi bahan omongan di OSIS. Setelah semuanya siap untuk penyambutan siswa-siswi baru. Aku pulang sudah di jemput dengan Mba Alin, untungnya tidak ada Iren saat itu jadi Iren tidak memaksa untuk mengantarkanku pulang.

Sebenarnya aku bingung kenapa hanya aku yang terlalu di prioritas kan di kost'an padahal banyak siswa lain yang sama seperti ku hanya saja beda status. Tapi aku tidak mau berpikir aneh aneh, aku hanya mengira karna sebatang kara jadi di prioritas kan sekolah.

Hari sekolah pun tiba, banyak wajah wajah baru di sekolah, selama perkenalan sekolah atau bisa di sebut ospek aku menemani berbagai kelompok hingga hari terakhir ospek, saat hari terakhir ospek ketua panitia OSIS kak Nova memerintah kan siswa-siswi baru membuat surat cinta kepada panitia OSIS dan boleh juga memberikan hadiah. Yang siswi memberi kan surat cinta kepada panitia OSIS cowok dan siswa memberikan surat cinta kepada panitia OSIS cewek.

Banyak siswi yang membuat Surat cinta untukku bukan hanya surat ada juga yang memberikan ku hadiah berupa coklat dan bunga, aku heran kok bisa mendapatkan surat dan hadiah sebanyak ini padahal panitia OSIS lelaki banyak bukan hanya aku. Aku hanya menganggap surat dan hadiah ini biasa saja tetapi cewek cewek adik kelas baruku ini seperti gimana gitu... Sangat beda lah sikap nya kepadaku. Aku sempat melihat Kak nova ternyata dia melihat surat dan hadiah yang di berikan siswi-siswi baru lebih banyak untukku menjadi sangat kesal terlihat dari raut wajahnya itu.

Kak Mira dan Iren pun sama banyak mendapatkan surat dan hadiah dari siswa baru. Dan panitia lainnya pun mendapatkan nya namun tidak sebanyak seperti aku kak Nova , Iren dan Kak Mira. Setelah selesai mengawal kegiatan ospek hari ini, aku langsung pulang tentunya bersama Mba Vina yang sudah menunggu di parkiran.

Saat di perjalanan Mba Vina menanyakan barang bawaan ku. Tentunya ku jelaskan semua barang barang ini, Mba Vina hanya tertawa saja setelah ku ceritakan semua, Mba Vina bilang aku terlalu polos tidak tahu maksud dari siswi-siswi memberikan hadiah ini. Memang aku tidak terlalu tahu maksud memberikan hadiah ini. Aku pikir ini hanya sebagai ucapan terima kasih saja setelah menemani kegiatan awal di sekolah.

Sampai di kost Mba Vina langsung aja menceritakan apa yang kuceritakan tadi di mobil kepada Mba Alin yang sudah menunggu ku di ruang tengah dan respon Mba Alin sama dengan Mba Vina saat di mobil yaitu tertawa dan bilang aku harus mulai belajar tentang perasaan cewek, jangan juga terlalu dingin.

Aku hanya iya iya saja setelah mendengar ucapan Mba Alin. Padahal aku tidak tahu kenapa bisa di sebut dingin dan harus belajar perasaan cewek. Ya sudah lah bagaimana besok saja, karna lelah hampir seharian aku melakukan kegiatan OSIS. Aku langsung tidur setelah itu dan belum ku sempat buka surat dan hadiah pemberian dari adik kelas baruku.

Hari ini aku sudah mulai fokus lagi belajar karna kegiatan OSIS sudah tidak terlalu memakan waktu banyak, hampir 1 minggu aku sibuk di kegiatan OSIS dan untungnya kegiatan belajar baru di mulai 2 hari kemarin jadi aku tidak terlalu ketinggalan jauh. Aku bisa saja meminta bantuan Reza menjelaskan pelajaran apa saja yang tertinggal.

Lumayan banyak pelajaran yang tertinggal, untungnya bu guru telat masuk jadi Reza memberikan arahan mana saja pelajaran yang tertinggal. Reza dan aku memang paling fokus saat guru menerangkan pelajaran maka dari itu sudah oasti Reza paham betul mana pelajaran yang telah meninggal kan ku, bukan bermaksud sombong ya.. otakku dan Reza selalu cepat singkron jika membahas pelajaran sekolah dan itu menjadi kan kita suka saling tukar pikiran. Kenapa bukan Cibe?? Cibe memang pintar tetapi dia sangat lambat menangkap atau menjelaskan pelajaran dan sering lupa, makannya aku lebih memilih Reza menberikan arahan pelajaran yang tertinggal.


(POV 3rd)

Mira dengan seorang lelaki hampir seumuran namun lebih mudah darinya sedang berbicara di lorong sekolah, cukup serius mereka berbicara dan Mira terus mengingat kan sebuah perjanjian yang telah di buatnya.

“Inget ya... Harus bisa jadi sahabat nya seperti rencana awal” tegas Mira kepada lelaki.

“Iya bawel banget sih... Mudah itu, tapi jangan lupa hadiah ku setelah misi ini berhasil. “ Jawab lelaki.

“Iya kan sudah buat perjanjian awas aja kalo gak berhasil!!! Udah sana ke Ruang TU udah di tunggu sama Ibu Nia dan pasti kamu bakal satu kelas dengan dia.” Ucap Mira yang Seraya pergi meninggalkan lelaki tersebut.

“Dasar bawel... Udah galak, cerewet, tukang marah mana mau lelaki sama dia, huh...” dumel lelaki kepada Mira yang kemudian pergi ke ruang TU sekolah.

“Bu saya siswa baru, kelas saya di mana ya??” Ucap lelaki yang langsung masuk tanpa permisi.

“Oh kamu sudah datang... Biasakan Kalo masuk permisi dulu dan jaga sikap sopan santun di sekolah ini.” Kata Bu guru yang menahan kesal tapi tidak bisa memarahinya karna jika memarahinya posisi nya di sekolah akan terancam.

“iya ya bu, permisi... Dimana kelasku??” kata lelaki di buat buat sesopan mungkin.

“Ya udah ikut Ibu... Sekalian mau mengajar.” Ucap Ibu guru.

Ibu guru dan lelaki tersebut meninggal kan ruang TU menuju ke kelas dimana Ibu guru mengajar dan kelas baru untuk lelaki tersebut. Sesampainya di depan kelas lelaki tersebut langsung saja masuk tanpa izin dari Ibu guru. Bu guru yang melihat itu hanya geleng-geleng saja.

“Selamat pagi semua... “ Salam pagi Bu guru.

“Pagi...” jawab serentak siswa-siswi.

“ya hari ini kalian kedatangan teman baru, silakan perkenalkan dirimu.” Kata Bu guru.

Siswa-siswi pun saling berbisik membicarakan orang yang sedang berdiri di depan.

“Ya kenalin nama gw Angga, kalian udah pasti kenal lah sama gue ya gak secara...” kata Angga namun sebelum ucapannya selesai..

“Sudah cukup silakan duduk di tempat yang kosong” Potong Bu guru yang kesal melihat tingkah siswa baru nya yang sangat sombong.

Angga pun langsung menuju paling belakang dan melewati sebuah bangku seseorang kemudian melihat kearah orang tersebut sampai Angga duduk paling belakang.


Note :
Nandan sudah 17 tahun
Angga 18 tahun




(Pov Nandan)

Di kelasku kedatangan siswa baru. Tetapi teman-teman sekelasku sepertinya tidak suka akan kehadiran siswa baru tersebut yaitu Angga. Saat Angga sudah memperkenalkan dirinya. Dia terus melihat ku sampai duduk di paling belakang.

“Apa ada yang aneh dengan ku???” tanyaku kepada Winda teman sebangku ku.

“Gak ada yang aneh kok” jawab Winda.

Aku heran mungkin ada yang salah saat ini. Teman-teman di kelasku juga seperti nya sudah tau siapa Angga. Setelah itu pelajaran pun di mulai dan bu guru yang mengajar adalah wali kelas baruku bernama Bu Nia.

Bel berbunyi jam akhir pembelajaran pun telah usai. Hari ini kelas 2 akan di pulang kan lebih cepat dari biasanya karna semua guru kelas 2 akan rapat persiapan ujian untuk kelas 3, kenapa baru masuk sudah membahas ujian? Karna guru kelas kelas 2 akan membantu pelajaran kelas 3 bisa di sebut kelas tambahan kata bu guru menjelaskan sedikit alasan rapat hari ini.

Semua siswa-siswi mulai keluar kelas seperti biasanya Iren selalu mengajakku pulang, tetapi lagi-lagi aku menolak nya. Iren bersama temannya keluar kelas dengan raut wajah kecewa, saat aku hendak berdiri, Angga menghampiri ku.

“Salam kenal Bro... Gw Angga” Ucap Angga sambil mengulurkan tangannya.

“Salam kenal juga... Namaku Nandan.” Kataku dan membalas jabatan tangannya.

“Oh bener namanya Nandan?? kita bisa kan saling berteman atau menjadi sahabat kedepannya...” katanya.

“ya, tentu bisa dengan siapa aja bisa berteman apalagi bersahabat lebih baik...” jawabku heran dengan pertanyaan Angga.

“Okelah... Sampai jumpa besok, gw balik duluan ya atau loe mau gw anterin”

“Eh gak usah terimakasih, aku bareng teman kok “ jawabku menolak ajakan Angga.

“Teman?? Yang di belakang itu?”, tanya Angga karna di kelas sisa Reza dan Cibe.

“Bukan aku bareng Mba Vina”, jawabku.


Setelah Angga pergi Reza dan Cibe menghampiri ku.

“kenapa kalian melihat Angga seperti itu..” tanyaku kepada Reza dan Cibe

“Loe gak tau??kalo Angga itu kan adiknya Mira yang sombong itu...” jawab Reza.

“Iya dan Angga itu sama sikap nya kayak Mira cuman lebih parah agak nakal gitu, dia juga pernah gak naik kelas “ sambung Cibe.

“oh hanya karna itu kalian melihat dia seperti itu...”kata ku sambil berjalan keluar kelas di ikuti dua sahabat ku.

“Iya... Trus ngapain juga dia pindah ke sekolah sini ya padahal sekolah dulu nya lebih bagus... Apa karna dia buat ulah terus di DO jadi dia masuk ke sini... Dan dari tadi pas jam pelajaran dia ngeliat loe trus lho Nan.” Ucap Reza.

“ya mungkin dia melihat ku Cuma ingin berteman saja, dan mungkin juga dia akan berubah tidak nakal lagi seperti di sekolah dulunya” kataku.

“iya lah gimana Loe aja Nan gw harap Loe hati hati sama Angga.” Ucap Reza. Dan Cibe juga Angguk Angguk kepala seakan benar apa yang di ucapkan Reza.

Kami telah sampai di parkiran Reza dan Cibe membawa mobil sendiri setelah mendapat SIM, hanya aku yang masih nebeng dengan Mba Vina. Reza dan Cibe pamitan setela Reza terus memberikan peringatan terhadap Angga siswa baru atau adiknya kak Mira.

Cukup lama aku menunggu di mobil mba Vina tetapi tidak muncul juga. Tiba-tiba Seseorang datang menghampiri ku , ternyata dia temannya Mba Vina memberitahu ku jika Mba Vina akan pulang lebih lambat karena ada tugas kelompok dan di suruh menunggu nya.

Aku akan mencoba naik Bus saja lah dari pada menunggu Mba Vina lagian aku juga sudah hafal jalann kota, ya akhirnya aku memutuskan kan pulang sendiri menuju halte terdekat. Ternyata cukup jauh halte dari sekolah ini.

Sampai di halte sangat sepi tidak ada penumpang lain, lama aku menunggu Bus tak ada satupun Bus lewat akan ku coba ke halte selanjutnya siapa tahu ada Bus sedang ngetem. Lagi dan lagi cukup jauh jarak antar halte lumayan juga jalan kaki.

Saat Beristirahat di pinggir jalan Tiba-tiba datang sebuah mobil yang kukenal dan turun seorang lelaki yang kukenal juga yaitu Kak nova serta teman temannya turun. Ku buat sikapku sesopan mungkin untuk menghindar hal yang tak di inginkan.

“Loe kenapa masih dekat dekat dengan Iren hah??” Ucap Nova Dengan nada tinggi sambil merangkulku.

“hm... Aku sudah coba menjauh dari Iren Kak...” jawabku.

“Alasan aja itu bos...”

“Sudah hajar aja bos...”

Ucapan ucapan memanasi Kak Nova terlontar dari teman temannya


#di sisi lain

Di dalam sebuah mobil dengan jalan yang sama tetapi sangat jauh dari Nandan dan Nova serta teman-temannya. Seorang Cowok dan cewek memperhatikan keadaan di depan.

“Itu kan orang yang kemarin memukul Nandan Ta, mau apa lagi dia?”, Ucap Zaki kepada Seta.

“Ya, aku tahu...”, Jawab Seta.

“Ayo sudah kita ke sana jangan sampai terlambat lagi bisa bisa Big Boss marah”, Ucap Zaki.

“sudah tenang aja pasti sebentar lagi dia datang”, Ucap Seta.

“Dia siapa???”, Tanya Zaki penasaran.

Seta hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Zaki, di depan sana Nandan hampir di pukul tapi tiba-tiba sebuah mobil datang dengan cepat.

“Tuh kan dia datang...”, Ucap Seta.

“Wah kok bisa dia tahu??” Tanya Zaki bingung. Seta hanya tersenyum saja seakan memberi jawaban terhadap Zaki, sayangnya Zaki tidak mengerti dengan senyuman itu.


#kembali ke Nandan

Kak Nova yang sepertinya sudah tersulut api emosi dan tidak sabar ingin memukulku mau tak mau sepertinya aku harus melawan pada kesempatan ini dan tidak bisa lagi menghindar. Tetapi saat kak Nova sudah mau meninju ku.

Ciiitt.....

Datang sebuah mobil dengan cepat. Aku dan Kak Nova serta temannya melihat arah datangnya mobil tersebut. Aku seperti nya mengenal mobil tersebut. Tak lama seorang cewek turun dan itu adalah Mba Alin.

“Sedang apa kalian di sini...”, Tanya Mba Alin menghampiri kami.

“Eh.. Lin ini biasa ada masalah kecil.” Jawab Nova yang seakan hilang amarah tadi.

“Masalah apa?? Ada apa dengan Nandan???” Tanya Mba Alin dengan tegas.

Akhirnya Nova menceritakan masalah yang terjadi denganku. Anehnya Nova merasa takut dengan Alin sampai sampai Nova menceritakan masalah nya.

“Jadi hanya karna Iren?? Nandan itu pacarku jadi jangan lagi kamu ganggu dia.” Ucap Mba Alin dengan santainya.

Seketika semua terkejut setelah mendengar ucapan Mba Alin termasuk aku. Nova yang tadinya sudah kesal kembali jadi merasa hilang kesalnya sepertinya kemudian teman temannya Nova juga terdiam. Aku yang masih terpaku diam langsung di tarik Mba Alin masuk ke mobilnya.

Mobil melaju dengan kencang meninggal Nova serta temannya yang seakan masih tidak percaya dengan omongan Mba Alin, aku masih saja terdiam mendengar ucapan tadi, kenapa bisa Mba alin ngomong seperti itu.

“Sudah jangan diam aja... Jadi makin sayang ni.” Ucap Mba Alin yang semakin membuat ku terkejut.

“Santai aja... Gak usah kaget seperti itu hihihi”, tawa nya.

“kita mau pulang atau jalan jalan dulu ni.” Tanya nya.

“Hm... Langsung pulang aja deh Mba...” jawabku.

“Nah gitu ngomong jangan diam aja, tapi kita gak langsung pulang kita mampir dulu ke sebuah tempat.” Ucap Mba Alin. Aku hanya mengangguk saja.

Sebenarnya aku ingin menanyakan ucapan Mba Alin yang tadi di depan Kak Nova, tetapi seperti nunggu di kost saja agar lebih nyaman menanyakan nya. Lama tidak ada percakapan aku tiba di sebuah gedung tinggi seperti kantor.

Tiba di parkiran seorang langsung menghampiri mobil dan membuka pintu Mba Alin.

“Yuk turun...” ajak Mba Alin.

“Tapi Mba aku pakai seragam sekolah, kalo mba kan sudah ganti baju.” Kataku yang tidak enak pakai seragam sekolah masuk ke dalam gedung.

“Ya memang nya kenapa? Udah ayok turun...” katanya.

Mba Alin pun turun di ikuti denganku saat mau masuk Mba Alin di beri sambutan oleh kedua perempuan cantik yang mirip sekali wajahnya mungkin kembar, dan saat mba Alin ngobrol dengan perempuan yabg keoran,Banyak orang-orang yang melihat ke arah kami lebih tepatnya kepadaku. Sebenarnya ada apa dengan ku sampai orang orang melihat ku dengan tatapan aneh, apa mungkin karna aku pakai baju SMA. Tiba-tiba Mba Alin langsung merangkul ku dan mengajak ke dalam kantor. Orang-orang yang tadi melihat ku dengan tatapan aneh pun sudah tidak melihat ku lagi.



(Pov 3rd)


Di ruang tengah rumah besar seperti istana ada seorang kakak dan adik yaitu Mira dan Angga sedang membahas rencana berikutnya yang pasti untuk mendapatkan seseorang yang menjadi taruhan kakaknya dengan rivalnya Iren. Sang adik pun mau membantu karena di iming-iming hadiah yang selama ini dia inginkan.

“Pokoknya kalo bisa Loe jadi sahabat nya... Biar gw tau lebih dalam gimana Nandan” Kata Mira.

“Beres pokoknya... Kecil bagi Angga buat mendekati seseorang “ kata Angga percaya diri.

“Awas aja kalo ketahuan rencana ini!!! Bukan cuman gak dapat hadiah tapi gak bakal gw kasih uang jajan bulanan Loe” Ancam Mira karna uang jajan bulanan adiknya itu melalui Mira sendiri, Karna daddy nya mempercayai Mira untuk menjatah uang bulanan adiknya.

“Iya..iya...” Jawab Angga.

Di sela obrolan tiba-tiba handphone Angga berdering.

Kring...kring...kring...

“Halo, gimana udah dapat tempatnya???” Kata Angga.

“............”

“Oke gw otw kesana... Gak lama pokoknya gw sampe”. Kata Angga sambil menutup telpon nya.

“Mau nongkrong lagi Loe??” Tanya Mira.

“ya iya lah hari gini ora nongkrong ora enak” jawab Angga.

“ada ada aja udah sana, awas ya pulang pulang mabuk lagi”. Kata Mira tegas.

“yaudalah gw mau jalan dulu, rencana ke depannya nanti kabarin gw lagi, tinggal gw jalani. Pokoknya Bakal gw bantu sampai dapat tu si Nandan, Oke kakakku yang cantik...” Kata Sang adik dengan nada merayu dan beranjak pergi.

Setelah adiknya pergi Mira memikirkan rencana nya lagi untuk ke depan, dia tidak ingin bahwa targetnya mengetahui bahwa ini rencana nya dia untuk mendapatkan nya, Walau agak sedikit curang tetapi itu bukan menjadi masalah. Sebelum lawannya mendapatkan target.

Sebenarnya ini hanya gengsi saja hanya untuk mendapatkan Cowok, dan perjanjian yang kalah akan menjadi asistennya selama setahun. Mana mungkin seorang Mira mau menjadi seorang asisten Iren yang sudah sangat lama menjadi Rival di sekolah SMA Terfavorit.

Mira juga sebenarnya penasaran dengan Nandan. Tapi apa daya ego Mira lebih besar dari rasa penasaran nya itu. Jadi dia cuman membuat rencana yang melibatkan adiknya itu dan untungnya adiknya mau membantu walaupun di iming-iming hadiah.

Sekarang ini Mira akan bersiap siap ke kantor ayahnya untuk menjalankan tugas seperti biasanya, yaitu memantau bisnis gelapnya yang sudah di jalan kan selama bertahun-tahun dengan patner ayahnya yang tidak di ketahui Mira , Mira juga tidak bisa menolak tugasnya, karna bisa di bilang bisnis gelapnya itu menjadi sumber utama kesuksesan ayahnya saat ini.

Mira sebenarnya tidak ingin ada lingkaran hitam yang di buat oleh ayahnya, tetapi karna keadaan yang memaksa. Dan karna ayahnya menjadi seorang pejabat di negara saat ini jadilah Mira yang mengurus bisnis ini. Perlu di ketahui juga bahwa Mira itu bisa di bilang sadis jika sedang berada di dalam bisnis gelap ayahnya itu. Karna bisa di bilang bahwa bisnis gelapnya itu selalu bermain keras dan sadis, jika lemah sedikit akan kalah dalam permainan bisnis gelap ini.


***​


(Pov Nandan)


Setelah lama di kantor Mba Alin, akhirnya pulang juga. Sekarang aku tahu bahwa Mba Alin mempunyai kantor sendiri bisa di bilang Mba Alin pengusaha termuda pantas saja mobilnya terlihat keren dan mewah. Dia juga membeli mobilnya dari hasil kerja kerasnya. Banyak yang di cerita kan dan di jelaskan selama aku di kantor dan sempat berkenalan dengan kedua sahabat atau rekan kerjanya di kantor yaitu Dina dan Dini.

Hari mulai malam waktu menunjukkan pukul 5 sore dan saat ini dalam perjalan pulang ke kostan. Lumayan lama di perjalanan karena macet dan tiba di kost an sudah jam 6 sore menjelang malam. Di kost juga masih sepi kemungkinan pada nongkrong di cafe biasa anak kost sini, aku juga baru mengetahui bahwa ada cafe khusus anak kost sini. Setelah Mba alin memberitahu kan ku.

Aku juga masih penasaran dengan ucapan nya tadi siang setelah ini aku akan menanyakan hal ini semoga saja ucapannya tadi hanya untuk menolong ku. Tetapi jika ucapan tadi siang hanya untuk menolong ku kenapa Mba Alin mengenalkanku sebagai pacarnya juga di kantor tadi kepada si kembar Dina dan Dini, cukup membingungkan.

“Yuk masuk, aku pengen ngobrol sebentar “ kata Mba Alin mengajak ku ke kamarnya. Sebenarnya pas banget aku mau bertanya tapi aku bingung jika di dalam kamar.

“Ngobrol di luar aja ya Mba... “. Kata ku karna aku takut jadi salah paham jika ada anak kost datang melihat ku di dalam kamar Mba Alin.

“Gak apa apa ayo udah masuk..” Langsung di tarik tangan ku masuk ke kamar Mba Alin, lumayan juga kamar Mba Alin cukup luas dari kamarku dan juga lebih rapih.

Cklek...

“Lho Mba kenapa di kunci??” tanya ku karna Tiba tiba di kunci dan kuncinya di masukan ke sakunya.

“Ya di kunci aja biar gak ada orang yang sembarangan masuk, tunggu sebentar dan duduk dulu, aku ganti baju dulu...”. Jawabnya.

“Tapi Mba....”. Ucapku tapi terpotong dengan tangan telunjuk Mba Alin ada tepat di tengah bibirku.

“Sssttt... “. Kata Mba Alin dengan tatapannya. Kemudian pergi menuju kamar mandi.

Glek...
Jakun ku naik turun setelah melihat tatapan nya lagi yang membuat ku terpana.

Aku hanya bisa menuruti omongan nya saja, duduk di atas kasurnya ini. Memang di kamar ini luas tetapi tetap tidak ada tempat duduk lagi selain di kasur karna barang-barang Mba Alin juga cukup banyak. Aku mendengar suara percikan air ternyata Mba Alin tidak hanya ganti baju tetapi mandi juga.

Saat Mba Alin keluar dari kamar mandi, lagi dan lagi aku di buat terpana dengan pakaian yang di pakai, dan entah kenapa setelah melihat Mba Alin memakai pakaian yang tipis transparan dan pendek seperti ada yang berdiri di balik celanaku ini.

Aku masih saja terpaku melihat Mba Alin yang menujuku, karna baru pertama kali aku melihat cewek memakai baju seperti ini. Ntah berapa kali jakun ku naik turun, sekarang mungkin aku mulai berkeringat dingin karna Mba Alin sudah tepat di depan ku dengan pakaian tidur transparan yang menampilkan dalamannya saja.

“Hei..” suara Mba Alin yang membuat ku tersadar, benar benar salah tingkah sendiri aku melihat Mba Alin seperti ini.

“kenapa kamu itu keringatan begitu” Tanya Mba Alin yang melihat ku berkeringat.

“Ehm.. Gak apa apa kok Mba “. Jawabku sambil mengelap keringat ku.

“Aku mau ngomong serius sama kamu..” Kata Mba Alin.

“i..iya mau ngomong apa Mba “. Kataku yang masih awkward dengan suasana ini.

“Aku pengen ngungkapin sesuatu yang ku pendam selama ini, dan kamu tahu kenapa aku selalu perhatian sama kamu??” Katanya.

“Maksudnya Mba...???”. Jawabku heran dan berpikir kata katanya.

“Isssh.. Masa kamu gak ngerasa sih.. Kamu itu polos banget sih jadi laki-laki, Kalo aku tuh sayang dan cinta sama kamu dan ucapan siang itu juga aku serius sama kamu, karna aku sudah gak tahan memendam perasaan ini Nandan...huh...”. Kata Mba Alin yang lagi lagi membuat ku terkejut dan terpana setelah mendengar perkataan nya.

Terjawab sudah mengapa selama ini Mba Alin selalu memberikan perhatian lebih.

“kenapa kamu diam aja?? Kamu gak cinta sama aku setelah kamu juga membalas perhatian kepadaku atau kamu bener cinta sama Iren?” Ucapnya dengan tatapan andalan yang membuat ku terpana.

“Eh.. Anu... Itu... Aku....”. Ucapku gugup karna bingung mau jawab apa.

“Anu ina itu, aku tanya kenapa kamu diam? Aku berharap kamu gak suka atau cinta sama Iren dan kalo kamu gak cinta terhadap ku juga tidak apa apa biarlah aku saja yang mencintaimu tanpa ada balasan cintamu untuk ku”. Ucapnya langsung tertunduk.

“Sebenarnya aku bingung Mba... Aku tidak tahu apa itu cinta, suka dan tentang pacaran. Selama ini aku hanya menganggap semuanya sahabat teman itu saja kok.” Jawabku dengan sejujurnya. Mba Alin langsung menatap ku dengan binar senang.

“Tetapi aku merasakan hal aneh jika dekat dengan Mba, dadaku selalu berdegup kencang aku tidak mengerti itu mba. Dan tentang Iren aku juga cuman menganggap sahabat saja sama seperti semuanya.” Ucapku.

“Ternyata dugaan ku selama ini benar ya.., kamu itu benar-benar polos, sampai tidak tahu mana orang menyukaimu dengan perlakuan nya terhadap kamu, Kalo gitu kamu harus belajar apa itu suka cinta dan sayang bersamaku, ingat Nandan ini kota semua akan blak-blakan mengatakan isi perasaannya tidak mengenal itu cewek atau cowok yang mengungkapkannya”. Ucap Mba Alin yang membuat ku ter bengong.

“Terus aku harus bagaimana Mba???” Jawabku.

“Aku Akan mulai mengajari kamu , pertama-tama mulai ini kita pacaran, pacaran itu membuat komitmen dimana pasangan tidak boleh menghianati rasa cinta dan sayang salah satu pasangan nya, dan yang paling penting harus di dasari dengan perasaan”

“Aku tahu pasti sekarang dada kamu berdegup kencang... Itu karna kamu mempunyai perasaan terhadapku... Sekarang kamu tutup mata dan rasakan curahan perasaanku”. Ucap Mba Alin Yang seakan tahu apa yang kurasakan saat ini. Dan dia duduk semakin dekat di depanku dengan tersenyum yang mungkin senang.

“Tapi Mba untuk apa tutup mata???” Tanyaku heran mengapa harus tutup mata.

“Tutup mata saja dan jangan buka mata sampai aku perintah kan” Ucap Mba Alin lembut.

Kemudian Aku pun mengikuti arahannya. Aku merasakan hembusan nafas semakin dekat dengan wajahku. Degup dadaku juga semakin kencang, aku merasakan bibirku menempel pada benda kenyal. Sedikit terkejut Aku tahu ini pasti bibir Mba Alin, namun aku tidak mau membuka mata karna perintah Mba Alin.

Bibirku juga bingung harus bagaimana karna ini pertama kalinya aku merasakan ciuman. Lumayan lama kecupan Mba Alin, ternyata tidak hanya kecupan setelah itu Ciuman Mba Alin yang tadinya lembut pun menjadi semakin intens, menghisap bibirku atas bawah, entah bibirkupun jadi mengikuti permainan Mba Alin.


Hmmmff...srrup...cup...cup...srrrupp...


Cukup manis aku merasakan bibir tipis Mba Alin, hisapan Mba Alin pun cukup kuat sampai sampai aku tidak bisa bernafas.

Cklek...


“Alin.........”


(To be continue):D
Makasih Updatenya...:ampun::ampun::ampun:
 
Top